Lebih baik sabar, daripada bar-bar
3 Pesan Bin Idris Buat Kamu yang Ugal-ugalan Waktu Berkendara

Jalanan selalu sumpek. Macet, gerah, panas. Tapi apa daya, ada hidup yang harus disambung. Walaupun harus berurusan dengan truk ngawur, angkot seenaknya, lampu merah yang terlalu lama, atau trotoar yang terlalu lebar.

Ayolah, kapan terakhir kali kita bahagia di jalan, kecuali mungkin saat berkendara santai tengah malam sambil maksimalkan volume di headset.

Kita juga kadang terburu-buru, 60 km per-jam terlalu pelan, tambah lagi, kencangkan lagi. Tanpa peduli ada orang tua membawa asbes di jalan, anak kecil menyeberang, ibu-ibu motor matic mengantar les anaknya. Ayolah, apakah jalanan jadi sekejam itu?

Saya sering melamunkan hal di atas sampai akhirnya menemukan salah satu lagu terbaik dari Bin Idris ini. Bin Idris adalah sosok yang berkali-kali saya tonton, tapi dengan nama Haikal Azizi--yang tergabung dalam band psychedelic kesayangan kita, Sigmun. Bin Idris; alter ego Haikal,  melempar album solo yang luar biasa bagus. Puncaknya ada di lagu "Jalan Bebas Hambatan", yang sudah bisa kamu nikmati di Spotify. 

Mendengarkan lagunya, saya seperti tersindir sendiri. Sebagai orang yang doyan kesana-kemari pakai motor, kadang terlalu ngawur di jalan, dan jarang sekali pulang, saya seperti diingatkan. 

1. Jalanan Selalu Menuntun Kita Pulang

Berbulan-bulan kau belum pulang
Aspal jalanan pun engkau terjang
Menuju rumah
Untuk bertemu papah dan mamah

Terlalu mudah bagi kita melupakan rumah, tapi terlalu sulit untuk melepaskannya. Di jalanan menuju kerja, kadang kita sering dihantam pertanyaan: kapan pulang? Apalagi buat kamu kaum urban yang banyak menahan diri untuk tidak pulang kampung, menunggu sampai sebulan-dua bulan lagi. Ayolah. Saya tidak mau terlalu menye. Tapi apa salahnya pulang sebentar, toh jalan yang dilewati sama. 

Jalan menuju kerja akan terasa berbeda kalau kita selalu ingat jalan menuju rumah.

2. Sekali lagi, safety riding lumayan penting

Sinar mentari silau menikam
Kau kenakan kacamata hitam 20 ribu 
Mereka tak perlu tau

Kebut-kebutan cuma bikin pusing
Jangan terpejam nanti terguling
Ketepian jalan
Mudah-mudahan jangan

Santai saja engkau menyupir
Kalau mengantuk tinggal melipir
Ke rest area
Beli gorengan dua ribu tiga

Bukan mau sok-sokan kampanye safety riding, dan jadi cemen karena takut aspal. Tapi jelas, kebut-kebutan tidak ada fungsinya. Santai sajalah. Toh kalau jatuh yang sakit ya sikut kamu juga. Tidak hanya itu, jalanan juga berpotensi turunkan tingkat kegantenganmu sampai 37%. Matahari pukul satu siang bisa bakar kulitmu pelan-pelan, lalu memicu jerawat, lalu mukamu jadi jelek. Lebih baik pakai perlengkapan standar. Lupakan knalpot brong. Jangan lupa klik helm. Pakai kaus kaki, sarung tangan. Buff.

Juga usahakan tidak mengantuk. Melipir saja ke minimarket, mampir dulu beli kopi dalam kemasan yang bukan diseduh biar tidak ngantuk. Seng penting slamet--kalau kata Mbah.

3. Di jalan bukan cuman ada kamu

Ada ambulance kau pun menyingkir
Jangan bajingan waktu menyetir
Lebih baik sabar
Daripada bar-bar

Awas ada truk pasir di depan
Jangan dekat-dekat
Tidak perlu nekat

Baiklah, siapa di sini yang kadang terlalu sok jadi Marquez dan suka membalap ibu-ibu bapak-bapak yang kadang masih tegang buat nambah kecepatan di jalan? Jalanan yang kamu lewati bukan Sepang atau Valencia. Memangnya kamu lagi ikut GP?

Tidak perlu banyak petingkah sirkus tong setan. Kalau memang ingin balapan ya pakai lahan punya simbahmu saja. Ini jalanan milik bersama cuy. Apalagi, tingkat kecelakaan kadang dipicu orang-orang nekat. Main terobos. Main hantam. Kendaraanmu bukan 'invisible car'  seperti Mermaid Man dan Bernacle Boy bung. Selow saja kalau lagi jemput untuk kencan,  toh pacarmu juga mungkin masih sisiran.

Menurutmu?

Percakapan Facebook