Soerabaja Start Up Festival 2018
Mau Bisnis Start Up Untung? Ini Caranya

 Banyak hal yang menarik dihadirkan praktisi bisnis dalam acara Soerabaja Start Up Festival 2018. Dihari ketiga, Jum’at (23/2) di LG Atrium Ciputra World Surabaya, Indonesia Marketing Association Chapter Surabaya selaku penyelenggara menghadirkan Stanislaus Adnanto Mastan, S.E, S. Kom, MSA., OCA, Accounting Department Lecturer Universitas Ciputra. Stanislaus menjadi pembicara sesi kedua, dengan membawa tema Healthy Financial Construct for StartUp Business. 

Faktanya, ada 17 ribu bisnis startup kelas Usaha Kecil Sederhana (UKS) di Kota Surabaya. Tapi tidak lebih dari separuh yang bisa bertahan karena merugi. Data ini mengejutkan, karena menurutnya bisnis startup hanya bertahan 2 sampai 3 tahun saja. 

Stanislaus berbagi tips, bagaimana startup bisa bertahan bahkan mendapat profit maksimal. Tips pertama adalah menghadapi sebuah bisnis startup yang selalu punya dua sisi, yaitu peluang dan risiko. Karena dalam satu paket antara kekurangan dan kelebihan, pelaku bisnis startup sebisa mungkin bisa melakukan tindakan terencana. Pertama dalam urusan modal dan investasi. Tidak adanya perencanaan yang matang, bisnis rawan rugi. Dibutuhkan kematangan dalam perencanaan keuangan, supaya bisnis terhindar dari kebangkrutan. 

Seperti prinsip yang dijalankan Universitas Ciputra, setiap pelaku bisnis harus berprinsip punya kemampuan analisa modal investasi, selain juga kemampuan dalam menjual. Di Surabaya, ada dua model bisnis yang mudah ditemukan. Pertama, Amati Tiru Modifikasi (ATM) dan kedua, murni inovasi. Bisnis model murni inovasi terbagi jadi dua, antara takut bergerak, dan yang satu bergerak secara “radikal”. "Restoran sushi menjamur dimana-mana, atau produk kuliner serba instan, seperti ayam goreng tepung atau jamur tepung sempat booming. Tapi dalam 2-3 tahun, kemana larinya bisnis yang sudah dijalankan itu?", kata Stanislaus. Ini yang menjadi tanda tanya, karena kesalahan dalam perencanaan, bisnis tidak jadi untung bahkan merugi. Tingkat kerugian tergantung seberapa besar modal investasi yang ditanamkan.

Stanislaus berharap pelaku bisnis startup bisa mengelola risiko untuk bisa untung. Calon mahasiswa S3 di sebuah perguruan tinggi di Selandia Baru ini juga berpesan, membuat bisnis bukan untuk pamer.

Kalau bisnis untuk pamer tapi rugi, lalu buat apa?

Menurutmu?

Percakapan Facebook