Apa sih yang kamu butuhkan untuk jadi CEO?
Kita Bisa Jadi CEO! Asal...

Fenomena pemimpin muda, mulai dari wiraswasta, lembaga pemerintahan sampai yang membangun perusahaannya sendiri, memang bukan hal baru lagi. Apalagi di bidang teknologi informasi, yang seakan-akan sudah jadi napasnya millenials.

Ferry Unadri, Traveloka | kontan.id

Fakta banyaknya pemimpin muda membuat pertanyaan ‘pantas nggak sih millenials jadi CEO?’ jadi so last year.  CEO atau Chief Executive Officer alias Pejabat Eksekutif Tertinggi, bertanggung jawab mengatur keseluruhan suatu perusahaan atau organisasi. Strategi dan visi perusahaan ada di tangan mereka, untuk menentukan perkembangan bisnis ke arah yang lebih baik.

Arief Widhiyasa, Agate Studio | goethe.de

Ir. Misbahul Huda, MBA satu diantara founder Rumah Kepemimpinan Indonesia mengatakan, menjadi CEO bukan soal usia, tapi kompetensinya. Untuk jadi pemimpin, millenials perlu bekal knowledge, skill dan attitude yang memadai.

Reza Nurhilman, Maicih | Biografiku.com

Attitude sangat penting melengkapi faktor knowledge  dan skill. Knowledge dan skill mungkin bisa dipelajari dalam waktu singkat. Tapi kata Misbahul Huda, khusus untuk attitude, perlu proses yang lebih panjang. Pembentukan attitude yang baik, misalnya dengan menjadi karyawan atau bawahan dulu, sebelum jadi pemimpin. Dari posisi itu, seseorang memahami tentang sebuah bisnis, membangun keahlian yang baik dan belajar kepemimpinan. Dalam psikologi, proses kepemimpinan selalu dilihat dalam konteks sosial. Artinya, individu dalam hubungan dengan orang lain harus memberi perhatian pada hakikat kehidupan masyarakat dimana individu berada. Untuk punya kehidupan sosial yang baik, otomatis perlu attitude yang baik juga.

Benny Fajarai, Kreavi

Benny Fajarai, Kreavi | thenextdev

Pendidikan sebagai bagian dari knowledge juga penting banget nih. Menurut Misbahul Huda, sekolah sampai ke negara-negara maju bisa sangat memperluas wawasan. Belajar sebanyak mungkin apa aja gerakan di bidang bisnis yang terjadi di negara maju. Pengetahuan dan pengalaman dari sana dibawa pulang ke Tanah Air, untuk diterapkan dengan inovatif.

Nadiem Makarim, CEO Gojek | studentpreneur

Ingat, semuanya perlu proses ya. Kita nggak bisa dalam sekedip mata terus langsung jadi CEO. Misbahul Huda mengatakan, sudah banyak kasus nyata dimana perusahaan diserahkan ke generasi berikutnya, tapi malah gagal. Ini karena penerusnya nggak mengalami proses pematangan lebih dulu. Terus belajar, mencoba, tambah pengalaman dan jangan mudah menyerah ya!

Menurutmu?

Percakapan Facebook