Bekerja tengah malam selalu memberikan pengalaman yang seru. Sekaligus seram.
Ketukan Dini Hari

Pertengahan 2013 lalu, saya pernah mendapat shift  malam di perusahaan yang saya tempati sekarang. Bekerja sendirian dan jam kerjanya mulai 22.00 WIB sampai 06.00 WIB. Pekerjaan saya sebagai desk redaksi salah satu media, membuat shift malam menyenangkan. Ada saja hal-hal  yang bisa dijadikan tulisan di sepertiga malam itu, baik berita maupun blog pribadi. Mulai dari kecelakaan karena kantuk-mabok, kriminal-asusila, sampai cerita-cerita unik warganet seperti hal menyeramkan dan horor. Menyenangkannya, saya juga mengalami poin terakhir itu. Selama lima bulan berada di shift malam, ini adalah salah satu cerita horror yang saya temui.

Malam itu baru saja hujan. Intensitas sedang, tapi awet sejak pukul delapan malam. Kosan saya yang dekat dengan kantor membuat saya tidak ragu melangkah dan berjalan kaki hujan-hujanan ke sana. Ruangan divisi saya ada di lantai paling atas. Saat saya tiba, ruangan sudah tidak berpenghuni, tapi lampu dan AC masih menyala. Sengaja mungkin. Karena tahu akan ada makhluk shift malam yang akan bertugas. Usai meletakkan tas dan menyalakan komputer, saya langsung turun ke pantry membuat secangkir kopi dan membawanya ke atas.

Kantor saya punya dua gedung, belakang dan depan. Divisi saya berada di lantai tiga gedung depan. Dari lantai dua, saya harus melewati lorong pendek sekitar tujuh meter sebelum bertemu pintu untuk menemui tangga menuju lantai tiga. Baru saja saya membuka pintu, saya sudah dikagetkan dengan suara yang tak jelas asalnya.

'Tuk, dert'

Bunyi itu membuat langkah saya melambat.

Menaiki tangga dengan waspada dan mendahulukan pandangan mata ke seluruh ruangan dari sudut bawah. Tidak ada apa-apa. Semua aman.

'Tukk'

Suara itu muncul lagi saat langkah saya akhirnya menyentuh anak tangga teratas. Suaranya berasal dari arah jendela di utara, yang menjadi batas terangnya ruangan dan gelapnya suasana luar sana.

Ruangan kerja yang saya tempati berukuran sekitar 8x7m. Pembatas barat dan timur adalah dinding. Sedangkan utara dan selatan adalah kaca dengan masing-masing dua ventilasi jendela yang bisa dibuka, juga terbuat dari kaca. Seringkali, suara 'tuk'  itu berasal dari burung yang tak sengaja menabrak kaca utara karena transparan. Banyak dari burung tersebut lalu jatuh lunglai di bawah jendela. Saya beberapa kali menemuinya saat siang hari. Karena itu, saya membuka jendela dan berharap burung-burung tersebut pelakunya.

Ternyata tidak ada.

Saya husnudzon lagi, mungkin burung itu tidak terkapar jatuh. Tidak sengaja menabrak lalu pergi lagi dengan sisa kekuatannya. Berprasangka baik di saat seperti ini akan sangat membantu pikir saya.

Dengan segelas kopi di tangan tangan, saya pindah ke meja redaksi tempat saya harus bekerja. Meja saya ada di pojok selatan. Di belakang kursi saya duduk adalah kaca selatan. Di balik kaca itu adalah pohon mangga tinggi yang ranting dan daunnya menutupi jarak pandang kami melihat ke luar. Rimbun. Sejauh ini, tidak pernah ada burung yang menabrak kaca utara ini. Tidak pernah terdengar suara 'tuk' atau semacamnya. Dan jarak antara utara dan selatan juga lumayan jauh, jadi saya tidak khawatir jika nantinya suara itu muncul lagi di utara.

Dua jam berlalu dan tengah malam sudah memasuki menit pertamanya. Saya masih memantau informasi-informasi yang mungkin bisa saya jadikan berita dengan lagu-lagu Green Day dan Linkin Park menemani bergantian di playlist. Kopi di gelas sudah tinggal ampas dan meja sudah berantakan dengan kulit kuaci yang saya cemil. Suasana nyaman itu berlangsung sampai sejam selanjutnya.

'Tukkkkk'

Bunyi ketukan keras muncul dari belakang, di kaca selatan, keras dan sangat jelas di pendengaran. Saya spontan menoleh, reflek karena kaget. Saya pun menggerakkan mata ke segala arah di balik kaca. Tidak ada apa-apa atau sejauh ini belum ada apa-apa. Saya kembali duduk dan memandangi informasi di layar komputer.

Entah ke mana perginya, malam ini kantuk tidak menghampiri sama sekali. Biasanya datang sebentar lalu pergi lagi. Malam ini tidak. Bahkan organ tubuh lainnya sedang hangat, seolah mendukung kedua mata tetap terjaga.

'Tukkk, tukkkk'

Suara itu muncul lagi. Kali ini tidak satu, tapi dua. Dan masih di kaca selatan, tepat di belakang saya duduk. Saya bangun dan kembali memeriksanya. Kali ini saya melihat sesuatu, benar-benar melihat sesuatu, menempel di kaca. Seperti jari telunjuk. Saya terperanjat lalu mundur. 'tidak mungkin, tidak mungkin', saya berusaha meyakinkan diri dalam hati. Saya mendekatkan diri lagi ke kaca. Saya masih bergumam dalam hati. 'tidak mungkin, saya pasti salah liat'. Saya mencari apa yang saya liat tadi, apapun itu. Tidak ada, tidak ada. Saya tidak melihat apa-apa.

Saya membalikkan badan dan kembali mau duduk.

'Tuk tuk'

Suara itu muncul lagi.

Saya menoleh, mendekatkan diri dan mencoba menangkapnya dengan mata. Hilang.

'Tuk tuk'

Muncul lagi. Sialan! Suara itu muncul seperti ketukan, seperti berkala dan berkali-kali. 'Tuk tuk', saya hitung. Ketukan itu terdengar dua kali dalam setiap dua detik. Tapi saya tidak melihat apa-apa di titik yang saya temui tadi. Tidak ada benda, burung atau apapun yang memunculkan bunyi ketukan tadi. Tidak ada. Bunyi itu masih berlanjut dengan konstan. Sedangkan saya, dengan kaki yang agak gemetar, mencari titik di mana ketukan itu berasal. Kaca ini luas, saya sudah mencari di tempat awal, tapi tidak ada. Pasti ada di titik lainnya. Semakin saya mendekatkan diri ke tengah kaca, suara itu semakin terdengar jelas di pendengaran.

'Tuk tuk', 'tuk tuk', 'tuk tuk'

Suara itu kini muncul jelas di telinga. Dan saya, melihat jari itu, jari yang maju mundur dan menyebabkan bunyi ketukan. Saya melihat dengan jelas. Jarinya agak hitam tanpa kuku. Hanya satu jari, entah telunjuk, tengah atau jari kelinking, saya kurang jelas. Tapi jari itu hanya satu. Masih maju mundur dan melakukan ketukan-ketukan itu. Saya tepat berada di depannya. Melihatnya, memperhatikan dengan seksama dan berusaha melihat lebih luas, siapa tahu itu orang.

Tapi tidak, mata saya tidak menemukan apa-apa kecuali jari. Saya bukan berani, tapi kaki saya belum siap pindah. Seperti berat digerakkan dan ditahan. Saya mulai ngaco. Mengangkat tangan kanan dan mendekatkannya ke jari yang dihalangi kaca itu. Saya buka telapak tangan, menempelkannya ke kaca dan merasakan ketukannya. Di tengah aksi itu, saya masih berusaha menggerakkan kaki.

Saya benar-benar ingin turun dari ruangan. Tapi kali ini, tangan saya seolah tertawan. Tangan saya yang menempel di kaca, tertahan. Saya bingung harus melakukan apa. Tangan kiri saya reflek, memukul kaca itu dua kali. Berhasil, tangan kanan saya bisa digerakkan, tapi ketukan masih berlangsung. Kaki saya juga sudah mulai bisa melakukan langkah langkah kecil. Saya benar-benar memanfaatkan kondisi itu. Saya ambil handphone di meja, lalu turun menelusuri tangga. Dan ketukan itu masih berlangsung sampai saya melewati pintu menuju lantai dua.

Menurutmu?

Percakapan Facebook