Saat sepi, semua sudut tempat kadang jadi menyeramkan. Termasuk di parkiran.
Kepala di Parkiran yang Gelap

Tim Warehouse kantorku masih berdua waktu itu dan kosku masih di gang seberang kantor yang hanya setapak. Beberapa kali saat malam, saya harus menemani Ghea, teman satu tim makan. Biasanya jam 7-an. Setelah memberi kabar Ghea kalau saya sudah di bawah, Ghea turun dan kami berdua menuju parkiran sepeda motor.

Kantor sepi malam itu, karena tanggal merah. Di parkiran hanya enam sampai tujuh sepeda motor saja yang terparkir, satu diantaranya punya Ghea. Posisinya di depan sendiri, masuk ke dalam. Dari jauh, kami sudah bisa melihat motor Ghea yang ada di depan itu, tepat di bawah jendela milik tetangga yang sepertinya lampunya bermasalah, karena nyala lalu mati. Hampir sama dengan pencahayaan parkiran ini, hanya satu lampu yang nyala di sebelah gudang, sementara di tengah, mati.

Ghea masih ngobrol saat kami sudah sampai di sepeda motor miliknya. Tiba-tiba obrolannya berhenti. Saya gak terlalu memperhatikan, karena saya sibuk masukin kunci ke sepeda motor dan mengeluarkannya dari parkiran.

Setelah saya lihat, ternyata Ghea tidak hanya berhenti bicara, tapi juga berhenti bergerak, berhenti melangkah, mematung di samping kayu penyangga tempat parkir. Matanya melihat ke arah tembok lalu menyebut nama saya dengan pelan.

'Rid, itu'.

Saya menoleh ke arah mata dia memandang. Sedetik, saya melihat susunan batu bata itu dan tidak ada apa-apa di sana. Di detik selanjutnya, pandangan saya tertuju pada jendela yang gelap dan terang seketika itu. Saat lampunya mati, jendela itu menambah suasana gelap parkiran.

Tapi saat menyala... ada bayangan dengan bentuk tidak asing bagi saya; kepala, agak lonjong, dengan rambut-rambut dan telinga di dua sisinya.

Saya, mungkin juga Ghea, tidak takut. tapi kaget. Saya memberanikan turun dari motor, mencoba berbaik sangka dan mendekat. Saya berharap itu adalah orang, pemilik rumah yang sedang berdiri, bersandar, dan kebetulan kepalanya keliatan dari parkiran kantor.

Saya menyapa,

'halo mas. Mbak. Mas ya..?'

Kondisinya masih sama, lampu mati dan gelap. Lalu nyala di beberapa detik kemudian, dengan kepala tadi tepat di tengah.

Tak kunjung direspon, saya ambil karet yang mengikat rambut panjang saya.

'plaakk', saya tembakkan karet itu ke jendela dengan keras.

Belum juga ada respon. saya ambil satu lagi karet yang ada di saku jaket.

'plak!!', kali ini lebih keras.

Tiba-tiba kepala itu bergerak seolah mau berbalik. Saya langsung menuju sepeda motor, menyalakannya dan menarik Ghea buat segera naik. Entah salah atau imajinasi, saya dan Ghea masih melihat ke arah jendela sesaat sebelum keluar parkiran. Kepala itu, menoleh ke arah kami, dengan wajah gelap dan mata menyala melihat ke arah kami.

Menurutmu?

Percakapan Facebook