Menyekolahkan anak di usia dini? Simak dampaknya!
Ini Dampak Negatif Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Belakangan linimasa ramai sekali tentang pro dan kontra memasukkan si kecil ke sekolah, entah itu jenjang PAUD atau Play Group. Mereka yang pro berpendapat bahwa di sekolah anak akan belajar sambil bermain, anak juga bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, dan banyak lagi pendapat yang akhirnya membuat orangtua memutuskan untuk memasukkan si kecil ke sekolah

Seorang psikolog dan pemerhati anak, Elly Risman, S. Psi mengatakan banyak orangtua menyekolahkan anaknya sedini mungkin.  Menurutnya ada tiga hal yang jadi penyebabnya, yaitu kurang ilmu, tidak punya prinsip dan gampang mengikuti trend. "Sebetulnya yang diperlukan oleh anak-anak adalah kedekatan dengan ayah dan bundanya. Kalau cuma bermain, permainan bisa di lakukan hanya di rumah, gerakan motoriknya belum sempurna terus kenapa harus melatih mereka di tempat lain", kata Elly.

tribunnews.com

Elly juga menjelaskan bagaimana seharusnya permainan dilakukan di rumah misalkan permainan ekspresi (Imaginative Play). Orang tua bercerita sambil mengekspresikannya, dan si kecil harus menirukan eksperesi tersebut. Karena permainan yang paling baik adalah tubuh orangtuanya, bukan alat permainan yang sudah jadi.

Tidak sedikit juga orangtua yang latah menyekolahkan anaknya sedini mungkin. Padahal sebetulnya yang paling nyaman untuk anak-anak adalah dia bermain di rumah dengan orangtuanya. Jangan memikirkan fasilitas yang ada di rumah. Kamu bisa memanfaatkan apa saja yang ada di rumah.

nakita.grid.id

"Dampak dari memasukkan sekolah terlalu dini bagi anak sama seperti menyemai benih kanker. Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul dan dalam jenis apa. Otak anak-anak belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan mereka kehilangan motivasi belajar. Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired). Ketika si kecil mengalami BLAST, kelak ia lebih rentan menjadi pelaku dan korban bullying, pornografi & kejahatan seksual", jelas Elly.

Selain itu, saat di sekolah anak belajar patuh pada aturan dan mengikuti instruksi. Padahal aturan dan instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak? Analoginya, seorang anak berusia kurang dari 5 tahun yang sangat berbakat dalam memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yang banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yang dirasakan anak : PUSING.

Jadi yuk, sebelum memutuskan untuk menyekolahkan putra-putri kita, kita pikir-pikir dulu plus dan minusnya ya!

Menurutmu?

Percakapan Facebook