Kerja sendirian di malam hari kadang menghadirkan cerita seram yang menegangkan. Karena itu, cerita itu harus dilewati bersama teman.
Hembusan Nafas Seberang Telpon

Awal Juni 2016. Malam itu pernikahan Ghea, teman satu tim di kantor baru saja berusia sebulan, masa-masa curhat keresahannya tentang apakah dia harus pindah rumah atau menetap sesuai permintaan keluarganya. Tapi dari semua alasan dia memilih bertahan, ada satu alasan horor yang dia alami di kantor, yang membuat dia belum berani pindah ke rumah baru.

Malam minggu tetap bekerja bagi sebagian orang adalah malam sial, tapi Ghea menikmatinya. Karena selain sudah lama terjadi, suami Ghea juga kadang bekerja. Jadilah malam minggu kerja baginya adalah hal biasa. Seringkali dia sendirian di atas atau dengan Reno, salah satu anggota tim, berdua sebagai desk redaksi.

Suatu malam di malam minggu, Ghea agak panik dan parno. Dia nelpon saya dengan suara lirih meminta saya ke kantor. Jam di tangan masih menunjukkan angka delapan, tapi bagi Ghea seolah jam 12. Karena sepi, sunyi dan bunyi-bunyian yang dia dengarkan hanya berisik di telinga, tidak mengisi di semua sudut ruang. Sepuluh menit kemudian saya sampai, berkendara dari mall dekat kantor.

Ghea cerita kalau dia mendengar nada sambung aneh dari interkom. Setiap kali dia menelpon ke ruang operator untuk konfirmasi info, ada nada putus yang berisi suara. Ada selanya, dan sela itu berbunyi suara orang, perempuan. Begitu pun setelah dia hendak menutup telepon, sebelum gagang terpasang sempurna, dia mendengar suara orang ada di balik suara itu, padahal operator yang dia hubungi sudah memutus telponnya.

Ghea masih menganggap biasa aja saat terjadi pertama, tapi hal ini berulang di setengah jam berikutnya. Karenanya, dia menghubungi saya dan meracau di seberang telpon. Mungkin saya temen kerja paling dekat tempat tinggalnya yang bisa dihubungi. Sialnya, ada informasi lagi yang harus dia sampaikan ke operator. Dia memilih menyimpan informasi itu sampai saya datang dan meminta saya yang menyampaikannya ke operator.

Setelah mendengar cerita darinya, saya mengangkat gagang telpon interkom perlahan. Mendengarkan setiap nada yang muncul setelahnya. Dan benar, suara itu ada. suara yang menyela di antara nada sambung sebelum operator mengangkat.

'Haaaa', seperti sedang bernafas lewat mulut.

Dua detik lalu hilang dan berganti nada sambung lagi. Tapi saat menutup telpon, suara itu tidak ada. Tidak terdengar seperti yang Ghea alami dua kali sebelumnya. Akhirnya saya nekat, sok-sokan, memainkan gagang telpon interkom, ngangkat gagang, mencet tombol sembarang dan menutupnya lagi. Berulang kali, berharap mendengar suara itu lagi. Tapi nihil, tidak ada lagi.

Akhirnya saya di kantor, ngobrol dan menemani Ghea kerja sampai akhirnya pukul sembilan tiba. Dia hendak pulang dan saya mencoba sekali lagi nelpon menggunakan telpon interkom.

Iseng, memastikan bahwa tidak apa-apa. Dan benar, tidak ada apa-apa.

Kami mematikan komputer yang nyala, mematikan dua dari tiga lampu ruangan dan bersiap turun. Tapi, tiba-tiba telpon interkom bunyi. Kami kaget, pandangan kami bertemu di tengah separuh gelapnya ruangan. Anehnya, deringnya hanya berbunyi sekali. Sekali saja.

Tapi tiba-tiba ada suara 'hhaaaaahh' di pojok ruangan, tepat di belakang kursi dan meja yang saya dan Ghea tempati.

Menurutmu?

Percakapan Facebook